Kisah Sukses ala Malcolm Gladwell

Malcolm Gladwell dalam buku ketiganya “Outlier-The Story of Success” menunjukkan bahwa untuk menjadi orang yang sukses – kerja keras, kepandaian, otak yang encer saja tidak selalu menjadikan jaminan kesuksesan. Sukses juga tergantung pada lingkungan sosial yang sebagian bisa dikondisikan dan dikendalikan.

Gladwell menguji argumentasinya dengan beberapa kisah sukses yang paling dikenal oleh orang banyak. Salah satunya tentang 4 pemuda Liverpool-Inggris yang mengguncang jagat musik dunia.

Pada Febuari 1964, 4 pemuda yang tergabung dalam The Beatles itu manggung di Amerika Serikat, memulai apa yang disebut sebagai British Invasion ke arena musik AS dan mengubah wajah musik pop. Dunia langsung tergila-gila dengan mereka. Tetapi bagaimana sebenarnya jalan mereka mengibarkan diri jadi band tersukses sepanjang masa?

2 pentolan The Beatles, John Lennon dan Paul McCartney, telah bermain bersama sejak Juli 1957, yaitu 7 tahun sebelum menaklukan AS. George Harrison bergabung pada Maret 1958. Pada 1960, ketika reputasinya masih terlentang, mereka sudah diundang main di Harmburg, Jerman.

Waktu itu, Hamburg tidak punya klub musik rock n roll. Yang ada klub striptease, tulis Philip Norman dalam “Shout!” biografi The Beatles. Salah seorang pemilik klub striptease, Bruno Koschmider, punya ide untuk menampilkan pertunjukan yang beda: musik nonstop dengan penonton yang datang dan pergi. Tugas band yang main adalah menarik sebanyak mungkin pengunjung dan selama mungkin.

Kebanyakan band yang diundang main adalah dari Liverpool. Mengapa? Karena sewaktu Bruno ke London, dia kebetulan bertemu seorang entrepreneur asal Liverpool dan mendapat peluang mengirim band ke Hamburg, sang entrepreneur Liverpool itu suatu hari membawa The Beatles ke Bruno. Setelah itu, The Beatles sering main di Hamburg, tetapi tidak selalu di klub milik Bruno.

Klub di Hamburg pada awal 1960-an itu murahan. Akustiknya jelek dan bayarannya murah. Penontonnya juga tidak apresiatif. Jadi, apa yang membuat episode ini penting bagi The Beatles?

Hamburg jadi istimewa justru karena memaksa Lennon-McCartney-Harrison main 8 Jam/hari, 7 hari/minggu. Selama 1,5 tahun pada 1961-1962 saja, mereka harus main 270 kali. Dalam setiap show yang demikian panjang dan rutin, dengan penonton yang lalu-lalang, mereka harus selalu menampilkan sesuatu yang baru dan menarik.

Berapa banyak band di dunia ini yang beroleh peluang latihan luar biasa seperti itu? Mereka jelek sekali di panggung ketika pertama datang dan jadi sangat bagus ketika balik dari Hamburg. Mereka bukan cuma jadi terlatih staminanya. Mereka harus belajar banyak lagu cover version dari segala macam lagu yang bisa anda pikir, bukan hanya rock n roll, tapi juga jazz. Sebelum di Hamburg itu, mereka sama sekali tak disiplin di panggung. Setelah kembali, mereka tak ada duanya. Hamburg itulah proses yang menjadikan mereka hebat.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: