Teman si anak adalah aset bagi anak kita

Belum lama saya menghadiri reuni sekolah SMP St. Maria Fatima yang dihadiri oleh sekitar 30 teman teman yang telah tidak pernah bersua selama 25 tahun lamanya. Asyiik, menyenangkan dan masing-masing sibuk bertanya dan bercerita mengenai perjalanan singkat hidup kita masing-masing yang tidak jauh dari perjalanan pendidikan lanjutan, keluarga, dan karir. Ada yang menjadi pengusaha, guru, ibu rumah tangga, dokter specialist, profesional, pengacara, konsultan, dosen dll. Sisa 120 yang lainnya dari total 150 jumlah siswa SMP pada saat itu belum diketahui profesinya tetapi pada saatnya nanti semuanya diyakini dapat terkuak. Yang menarik adalah pembicaraan saya dengan salah satu kawan yang ternyata melakukan program pendidikan untuk anak-anaknya di rumah yang dikenal dengan sebutan “Home Schooling”. Salah satu alasannya adalah karena dia tidak puas dengan sistem pendidikan dan pola pengajaran yang ada dan yang sesuai dengan kemampuan finansialnya. Sang istri-lah yang mengawasi kegiatan belajar dari anak-anaknya setiap hari sedangkan sang ayah mengevaluasi hasil belajar setiap akhir pekan dan kemudian membuat program belajar bagi kedua anaknya untuk satu minggu kedepan. Sedangkan untuk materi pembelajaran didapat dari Christian Liberti Press yang tidak gratis tetapi memadai biayanya.

Saya semakin banyak menjumpai orang tua khususnya di Jakarta yang mempercayakan program pendidikan anaknya dengan home schooling dengan beragam alasan dari tidak puas terhadap pilihan yang ada, kemampuan finansial vs kualitas pendidikan yang diharapkan, sampai dengan kemampuan belajar sang anak yang tidak dapat diakomodasi oleh sekolah formal yang ada. Bahkan beberapa ortu membentuk semacam komunitas diantara mereka agar anak-anak mereka dapat berkumpul dan belajar bersama pada hari hari tertentu ditempat yang telah ditentukan, dimana hal ini dapat meminimalisir kekurangan dari program home schooling yaitu kurangnya pertemanan.

Sekolah adalah tempat dimana proses belajar mengajar terjadi. Disana anak-anak kita belajar dari para guru, belajar dan tukar menukar informasi dengan teman-temannya , belajar menjaga diri, belajar berkomunikasi dan bersosialisasi dengan teman teman, belajar sebab akibat dari proses pertemanan yang bisa berakibat sedih, marah, senang, kecut dlsb, belajar berkompetisi, belajar menerima kenyataan pahit salah satunya dari kekalahan dalam bermain, berkompetisi, bertanding dan masih banyak hal lainnya. Disamping itu, anak-anak pun dapat saling bertukar informasi mengenai perkembangan di luar sekolah seperti film yang sedang “in”, musik, gadget, dunia internet, game dan ini semua merupakan bagian dari proses pembelajaran bagi si anak.

Belajar tidak melulu mengenai belajar akademik, tetapi belajar juga berarti belajar mengenai life skills, belajar juga berarti belajar bersosialisasi dan untuk itu perlu dipraktekkan semuanya dari waktu ke waktu.

Disamping semua hal tsb semakin besar kesempatan anak-anak kita untuk mempunyai lebih banyak teman sekolah akan lebih baik. Karena teman teman sekolah akan menyumbang luasan social networking si anak nantinya. Semakin luas akan semakin besar kemungkinan dari teman teman  anak kita nantinya yang akan menjadi pengusaha sukses, dokter terkenal, arsitek terkenal, seniman mashyur, penyanyi top, pemerhati lingkungan tingkat dunia dll. Tidakkah ini semua akan membantu karir anak kita nantinya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: